Minggu, 16 Januari 2011

Ka'ab bin Al-Ahbar

Namanya Ka’ab bin Mati’ Al-Himyari. Nama kunyahnya Abu Ishaq. Dulu dia adalah pendeta yahudi. Karena itulah dia dijuluki dengan Ketika khalifah Umar bin Al-Khaththab radiyallahu anhu memerintah, ada seorang Yahudi masuk islam. Al-Ahbar. Dia mempunyai banyak ilmu tentang Taurat.
Sebenarnya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mulai mengajarkan islam, Kaab sudah mendengar tentang munculnya Rasulullah. Tetapi ayah Ka’ab menuliskan untuknya sebuah kitab Taurat.
“Amalkan ini!” pesan ayahnya . Lalu sang ayah menyegel  kitab –kitab Taurat yang lain dan berwasiat pada Ka’ab jangan sekali-kali membuka segel  kitab-kitab itu. Ka’ab pun mematuhi  pesan sang ayah.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Telah Wafat

Dari Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصلُّوْا عَلَيَّ
فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, jangan pula kalian menjadikan kuburku sebagai ied, dan bershalawatlah kalian untukku. Karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.” 

Perang Hunain, bag 1

Dengan dibebaskannya kota Makkah, jatuhlah sudah kerajaan berhala di ranah Hijaz. Bangsa ‘Arab mulai tunduk kepada Islam, dan mereka berduyun-duyun masuk ke dalamnya. Suku Hawazin yang mendengar peristiwa itu, merasa khawatir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengerahkan pasukan kepada mereka. Mereka pun bersatu untuk menyerang beliau. Peristiwa ini pun meletus di Hunain, sebuah lembah yang terletak antara Makkah dan Thaif, pada bulan Syawwal tahun ke-8 Hijrah. 

Sifat-sifat Penghuni Neraka

Dalam surat Qaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan beberapa sifat penghuni neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ قَرِينُهُ هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ. أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ. مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ. الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ

Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” (Qaf: 23-26)
Dalam ayat-ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa qarin yang menyertai manusia, yakni malaikat yang ditugasi untuk mencacat amal bani Adam, mengatakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” Yakni orang tersebut dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh malaikat beserta catatan amalnya yang lengkap, tanpa ditambah dan dikurangi, serta siap untuk diberi balasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memerintahkan kepada kedua malaikat-Nya yaitu malaikat yang sebagai saksi dan malaikat yang menggiringnya ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.”
Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut terdapat enam sifat orang yang bakal dilemparkan ke dalam Jahannam.

Faidah Kisah-kisah Qur`ani

Sebuah kisah yang baik akan mudah meresap ke dalam hati orang yang membaca atau mendengarnya, serta menanamkan kesan yang demikian mendalam. Bahkan pelajaran yang disampaikan melalui pemaparan kisah (narasi) lebih banyak faedahnya. 

Dalam beberapa edisi, telah kita paparkan sejumlah kisah tentang umat terdahulu. Kisah-kisah mereka termuat di dalam Al-Qur`an dan sebagiannya dalam hadits-hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam kesempatan ini, kami mengajak pembaca merenungkan, mengapa begitu banyak Allah Subhanahu wa Ta'ala mengungkap berbagai kejadian umat manusia sebelum kita. Apa hikmah di balik itu semua? Dalam pembahasan ini, kami nukilkan sebagian uraian Al-’Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu dari Kitab Ushul Tafsir beliau dengan beberapa tambahan dari sumber lain. Wallahul Muwaffiq.

Mengusap Khuf

Pengertian khuf
Khuf adalah sesuatu yang dikenakan pada kaki, yang terbuat dari kulit atau selainnya.1 (Al-Mas-hu ‘alal Khuffaini, Bab Fatawa fil Mas-hi alal Khuffaini; Asy-Syarhul Mumti’, 1/182)

Dasar Hukum Mengusap Khuf
Bila seseorang yang berwudhu dalam keadaan mengenakan khuf, maka ia tidak perlu membuka khufnya untuk mencuci kaki namun cukup sebagai gantinya mengusap di atas khufnya. Demikian As Sunnah menerangkan dalam permasalahan ini. Ulama Ahlus Sunnah sepakat tentang pensyariatan mengusap khuf, menyelisihi kelompok Syi’ah Rafidhah yang menyempal dari jalan yang haq. 
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Pengingkaran kelompok Syi’ah Rafidhah terhadap sunnah ini merupakan syi’ar (tanda) mereka.” (Asy-Syarhul Mumti’, 1/182)
Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata: “Telah masyhur di kalangan ulama syariat tentang kebolehan mengusap khuf, sampai-sampai perkara ini terhitung sebagai syi’ar Ahlus Sunnah dan pengingkaran terhadap hal ini teranggap sebagai syi’ar ahlul bid’ah.” (Ihkamul Ahkam, 1/114)
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: “Tidaklah didapati pengingkaran dalam masalah mengusap khuf ini kecuali dari orang yang bodoh dan dari kalangan ahlul bid’ah yang keluar dari jamaah kaum muslimin (kalangan fuqaha dan ahli atsar).” (At-Tamhid, 11/134)
Dalil tentang mengusap khuf dalam Al Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: 
وَامْسَحُوا بِرُؤُوْسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Usaplah kepala-kepala kalian dan kaki-kaki kalian sampai mata kaki.” (Al-Maidah: 6)
Dengan mengkasrah huruf lam pada bacaan2 (َأَرْجُلِكُمْ) (mengusap kaki-kaki kalian) mengikuti lafadz (بِرُؤُوْسِكُمْ) (mengusap kepala-kepala kalian) 

Minggu, 06 Juni 2010

Laa Ilaaha Illallaah Makna, Rukun dan Konsekuensinya

Jadi, segala sesuatu yang di jadikan sesembahan oleh manusia, baik itu berupa berhala-berhala atau patung-patung, pepohonan, batu-batuan atau kuburan-kuburan yang di keramatkan, jin-jin dan setan, atau orang-orang sholih yang telah mati baik berupa para Nabi atau para Wali, maka itu semua adalah sesembahan yang bhatil (salah).

Rabu, 19 Mei 2010

Kisah Nabi Adam

Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah sehingga Adam dikeluarkan dari surga.

‘Umamah bintu Hamzah Al-Hazyimiyah radhiyallahu 'anhuma

Tinggal sebagai muslimah di antara kaum musyrikin di Makkah bukanlah sesuatu yang diharapkan. Putri Singa Allah, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu ini mendambakan hidup bersama kaum muslimin di Madinah. Dia pun menanti, hingga saatnya tiba....

Bolehkah Menonton Sulap?

Seringkali kami mendengar tentang apa yang dilakukan oleh para penyulap berupa atraksi-atraksi mereka yang disaksikan oleh anak-anak muslimin, baik melalui layar televisi atau secara langsung di sebagian daerah dengan atraksi yang cepat dan tersembunyi sehingga mengundang perhatian mata. Seperti mematikan dan menghidupkan burung, mengeluarkan telur dari dua tangan, dan hal-hal semacam ini. Lantas apa hukum dari menyaksikan hal itu dan apakah hal tersebut termasuk sihir?

Ummu Darda’ Ash-Shughra

Seorang anak perempuan yatim diasuh oleh Abud Darda’ ‘Uwaimir Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Hujaimah bintu Huyai Al-Washshabiyah rahimahallah namanya, berasal dari Washshab, salah satu kabilah di Himyar.
Selama dalam asuhan Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Hujaimah kecil biasa diajak oleh Abud Darda’ menghadiri shalat berjamaah di tengah shaf laki-laki dengan mengenakan burnus, sejenis pakaian yang mempunyai penutup kepala, dan duduk bersamanya di halaqah-halaqah para pembaca Al-Qur’an untuk mempelajari Al-Qur’an. Ketika mulai beranjak besar, Abud Darda’ menyuruh Hujaimah untuk bergabung dengan shaf para wanita.


Hafshah bintu Sirin

Seorang wanita keturunan Anshar yang mulia. Seorang wanita yang faqih terhadap agamanya. Bersaudara dengan orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan dengan ilmu dan bashirah. Hafshah bintu Sirin Al-Anshariyyah Al-Bashriyyah.

Tauhid

Istilah tauhid memang telah menjadi istilah yang sangat populer di tengah masyarakat muslim. Namun tak sedikit yang memahaminya dengan pemahaman yang salah.
Makna tauhid yang sebenarnya adalah mengesakan Allah pada sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya baik Rububiyah, Uluhiyah atau Asma serta Sifat-sifat-Nya.

Syarat-syarat Shalat


Ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebelum shalat ditunaikan. Berikut adalah penjelasannya.
Sebagai salah satu bentuk ibadah, shalat memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Pengertian syarat sendiri menurut ulama ilmu ushul adalah perkara yang keberadaan suatu hukum tergantung dengannya. Dalam arti, bila ia tidak ada maka pasti tidak ada hukum. Namun adanya perkara tersebut tidak mengharuskan adanya hukum. Contohnya, adanya wudhu sebagai suatu syarat dalam ibadah shalat tidak mengharuskan adanya shalat. Karena bisa jadi orang berwudhu bukan untuk shalat tapi untuk menjaga agar ia selalu di atas thaharah atau ia wudhu karena hendak tidur. Sebaliknya bila tidak ada wudhu (ataupun penggantinya) maka tidak sah shalatnya. Contoh lain, adanya dua saksi merupakan syarat sahnya suatu akad nikah. Namun adanya dua saksi tidak mengharuskan adanya akad nikah, sebaliknya bila tidak ada dua saksi tidak sah suatu pernikahan. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/396, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/86)

Senin, 03 Mei 2010

Asma' bintu Umais

Sebuah kehidupan yang dilingkupi kemuliaan. Bersaudara dengan para shahabiyah yang mulia, bersanding dengan suami-suami yang mulia, lahir dari rahimnya anak-anak yang mulia. Dia adalah salah satu ahlus safinah yang mengarungi lautan untuk menggapai kemuliaan dua hijrah, menuju bumi Habasyah dan menuju Rasul-Nya yang mulia.